So Aja

Baca online: cerpen, puisi, naskah drama, surat

0 Komentar 27/06/13 | @ 11.06

Cerita Sebelumnya:


KAPANKAH KAU KATAKAN ITU (Bagian 4)

Lama mereka terdiam,” Tacia…” tiba-tiba Bintang membuka suaranya.” Ada yang harus kakak sampaikan sekarang” jantung Tacia semakin berdebar, apa lagi yang akan Bintang katakan sekarang. Apakah ia akan mengatakan cinta? Tidak mungkin. Sangat tidak mungkin itu terjadi, karena ternyata Bintang hanya menganggapnya sebagai adik.

Degup jantung Tacia semakin keras, namun ada sebuah titik harapan jauh di dalam lubuk hatinya bahwa Bintang akan mengatakan sesuatu yang sangat ia harapkan selama ini.” Ya kak, ada apa?” Tacia berucap lirih,”Kakak… Kakak… Ingin minta maaf” Tacia kembali menatap Bintang tajam,” Atas apa?” Tacia kembali bertanya,”Kakak datang ke sini karena kakak tidak mau dianggap sebagai pengecut. Kakak sadar, kakak sudah membuat Tacia menunggu lama”“Lalu?” jawab Tacia singkat,” Ca, langsung saja pada permasalahannya. Kakak tidak bisa lama-lama di sini. Sore ini kakak harus keluar kota lagi. Maka dari itu kakak ingin menyelesaikannya sekarang”“Tentang apa? Belum puaskah kakak membuat Tacia seperti ini? Menunggu tanpa tahu harus berbuat apa. Tacia berharap, masih berharap suatu saat nanti kakak benar-benar datang dan… Dan sekarang ternyata kakak memang benar-benar datang tapi aku rasa… Aku rasa kakak datang tidak untuk menepati janji, lalu untuk apa kakak masih datang ke sini, untuk apa???”“Ca, dengar kakak memang ingat dengan janji kakak. Oke, kakak mengaku salah karena tidak pernah menemuimu, kakak sibuk. Tapi sekarang… Mulai sekarang sebaiknya kita memang tidak usah berhubungan lagi, baik lewat telepon maupun sms. Jangan pernah menghubungiku lagi. Mengerti? Aku ke sini untuk mengatakan ini. Maafkan aku, Ca!

Tacia benar-benar terkejut mendengarnya, hatinya semakin sakit, sangat sakit. Ingin ia berteriak, tapi itu tak mungkin dilakukannya. Orang yang selama ini ia nantikan telah membuat suatu keputusan yang benar-benar tidak pernah ia duga sebelumnya,” Kakak… Kenapa…. Kenapa Kak… Padahal Tacia dengan setia menunggu kakak, Tacia berharap suatu saat nanti kakak datang untuk mengatakan sesuatu pada Tacia.. KENAPPP….???”“Niena hamil, Ca !!!” DHUAR………!!!! Bagai disambar hailintar, Tacia terpaku tak percaya mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Bintang. Suara Tacia tersekat, hatinya begitu sakit, seperti ada seribu jarum yang ditusukkan ke dadanya, telinganya pedih dan memanas, kedua bola matanya terasa hangat. Tacia sungguh sangat terpukul. Kakak…. Kapankah kau katakan itu? Kapan kau katakan bahwa kau mencintaiku….? Kapan…? Mengapa kau datang untuk mengatakan ini. Tiba-tiba saja pandangan Tacia menjadi kabur, lalu semua terasa gelap. Gelap dan Gelap.

* * * * *
T A M A T

By: Ika Karina

Label: ,

0 Komentar | @ 11.04

Cerita Sebelumnya:


KAPANKAH KAU KATAKAN ITU (Bagian 3)

Dari sinilah awal perkenalan Tacia dengan Niena “Kak Bintang kalau nggak bawa kendaraan sendiri pulang bareng aku dan Kinanthi aja yuk! Nanti kita antar sampai depan rumah kok” Tacia merajuk pada Bintang, berharap sang pujaan hatinya menerima tawarannya tersebut” Nggak Cia… Kakak kan sudah bilang tadi pagi, kalau kakak bisa pulang sendiri, kakak sekarang lagi nunggu seseorang, makanya kamu kakak suruh nemani di sini. Kakak pengen ngenalin kamu sama seseorang”“Oh ya, kok baru ngomong sekarang?” “Ya memang kakak sengaja biar kamu nggak penasaran terus. Ntar malah tanya-tanya terus”“Sekarang juga udah penasaran nie… Memang siapa sih kak?”“Nanti, sebentar lagi juga datang kok. Sabar ya!” Bintang menggenggam tangan Tacia erat. Beberapa detik kemudian, sebuah BMW Z3 putih metalic berhenti tidak jauh dari tempat mereka. Din… Din… Si pengemudi membunyikan klakson untuk memberi tanda. Bintang segera melepas tangan Tacia dari genggamannya dan berjalan menuju ke arah mobil tersebut.

Sesaat kemudian, tampak seorang perempuan cantik keluar dari dalam mobil, Mereka berdua saling melemparkan senyum dan berbicara sebentar. Tiba-tiba pandangan Bintang dan perempuan tersebut tertuju ke arah Tacia yang sedari tadi hanya berdiri tanpa tahu harus berbuat apa. Bintang dan perempuan cantik tersebut berjalan menuju ke arah Tacia.” Tacia, ini kak Niena yang pernah aku ceritakan dulu” Bintang memperkenalkan perempuan tersebut pada Tacia” Tacia kak, Anastacia” Tacia mengulurkan tangannya sambil berusaha senyum dan disambut oleh perempuan tadi” Niena, wah… Memang kamu cerita apa aja Bintang ke Tacia?” Niena tersenyum menggoda. Bintang hanya tertawa” Cantik ya ternyata Tacia itu, Bintang juga sering cerita tentang kamu lho Tacia” Goda Niena sambil melirik ke arah Bintang” Niena… Stop !!! Bintang melotot ke arah Niena, mereka berdua tertawa bersamaan. Tacia terbengong-bengong menyaksikan ulah mereka” Kak Niena juga cantik kok” Tacia mencoba menyela, dan masuk dalam candaan yang baginya tidak nampak lucu sama sekali. Niena tersenyum memandang Tacia, lalu mengangkat tangan kanannya untuk melihat laporan waktu” Wah, sudah jam dua nih, Tacia mau ikut pulang bareng kita? Maaf ya, aku buru-buru ada urusan penting di rumah”“Iya, kamu bareng kita aja ya Ca pulangnya, Kinanthi biar pulang sendiri. Kan dia juga bawa kendaraan sendiri” Bintang menyela menawarkan tumpangan” Wah, terimakasih kak.Tacia sudah ada janji juga sama teman, nggak enak” tolak Tacia sopan,” Oo… gitu, gimana Bin, nggak apa?” Niena meminta persetujuan Bintang sebelum pergi meninggalkan Tacia” Bener Ca, nggak apa kita tinggal?” Bintang balik bertanya pada Tacia” Nggak apa kak, sungguh” Setelah melalui beberapa kata perpisahan akhirnya Niena dan Bintang pergi meninggalkan Tacia sendiri. Tacia nampak masih berdiri mematung sendiri di bawah panasnya terik sinar matahari.

Terkadang muncul tanda tanya besar di benak Tacia, apakah tujuan Bintang melanjutkan kuliah di tempat yang sama dengan Niena yang sudah menjadi mantan kekasihnya. Apakah Bintang masih menyimpan perasaan suka kepada Niena, atau ada tujuan lain yang memang ingin ia capai. Kenapa sekian lama mereka menjalin hubungan, Bintang tidak menyatakan perasaannya terhadap Tacia. Apakah Bintang tidak mencintai Tacia dan hanya menganggapnya sebagai teman saja, atau Tacia hanya dijadikan hiburan selama Bintang jauh dari Niena. Lamunan Tacia kembali buyar oleh suara adzan magrib yang berkumandang. Waktu sudah menunjukkan bahwa hari sudah mulai petang. Tacia segera mengumpulkan sisa kesadarannya kembali dan bergegas masuk ke dalam rumah.

* * * * *

Lima bulan sudah berlalu, Ujian Akhir Nasional sudah digelar, sekarang tinggal menunggu hasil pengumuman keluar. Ingatan Tacia akan Bintang sudah hampir terlupa, walaupun tidak sepenuhnya hilang. Hingga suatu saat,” Tacia … Ada tamu”“Siapa Ma?”“Mama nggak tahu, kayanya temanmu dulu. Sudah lama ya dia nggak pernah main ke sini”“Teman? Cowok ya Ma?” tanya Tacia penasaran,” Iya, buruan sana!” Tacia berusaha memutar otak dan menduga-duga siapa teman yang sudah lama tidak pernah mengunjunginya. Bergegas ia berjalan ke ruang tamu untuk menemuinya. Lalu………

“KAK BINTANG… ?!?!?!” Tacia tersentak kaget tak percaya, ia tak percaya dengan apa yang sudah ada di hadapannya sekarang.” Kak Bintang…???” Tacia mengulang perkataannya lagi, ia benar-benar tak dapat percaya. Sekian lama ia menunggu, sekian lama ia berharap, berharap suatu saat nanti Bintang akan datang lagi padanya dan mengungkapkan perasaan cintanya. Apakah ini saatnya, saat dimana kerinduan yang sudah lama Tacia pendam terlampiaskan, saat dimana air mata Tacia mengering dan habis karena perasaan cintanya yang mendalam, saat dimana Tacia ingin mengungkapkan segala cerita dan perasaannya pada Bintang,” Apa kabar Tacia?” Tiba-tiba suara Bintang membuyarkan lamunan Tacia, Tacia berusaha menguasai keadaan kembali. Bintang mengulurkan tangannya sebagai tanda untuk berjabat tangan,” Kakak…. Eh, em… Ba, baik, Kakak sendiri ?” Tacia balik bertanya,” Seperti yang kamu lihat, Kakak masih tetap utuh dan sehat. Ha… Ha…. Ha….” Bintang membuka dan menengadahkan kedua tangannya seperti hendak memeluk Tacia,” Ah, Tacia nggak percaya kakak ada di sini, Kakak masih ingat Tacia? Sungguh Tacia nggak percaya” Tacia hampir menangis tapi berusaha ditahannya,” Tacia…. Kakak nggak mungkinlah lupa sama Kamu, Kamu tuh sudah kakak Anggap seperti adik kakak sendiri” Bintang tersenyum lembut,” Ad…, ad, adik?” Tacia berkata lirih,” Apa maksud kakak hanya menganggap Tacia sebagai adik?” Tacia menatap Bintang tajam. Bintang terdiam, tiba-tiba suasana menjadi hening, tidak tahu apa yang harus Tacia lakukan, hatinya begitu sakit. Untuk kedua kalinya ia tak dapat berbicara.

* * * * *
B E R S A M B U N G

Label: ,

0 Komentar | @ 11.02

Cerita Sebelumnya:


KAPANKAH KAU KATAKAN ITU (Bagian 2)

Tacia duduk di beranda depan sambil memain-mainkan handphone di tangan kirinya, berharap ada seseorang yang menghubunginya” Apa kak Bintang lupa ya… Sudah dua minggu dia nggak sms, atau lagi sibuk ya?” Tacia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.” Ah, mungkin dia masih sibuk di sana” Tiba-tiba sebuah Mazda X7 hijau tua berhenti di halaman depan rumahnya, dua orang pengemudi dan penumpangnya turun dari dalam dengan arah yang berlawanan” Hai adikku sayang, kok tumben sore-sore gini duduk di depan, lagi nungguin siapa nih?”“Kak Aleidya, kak Rico? Aku kira siapa, mobil baru ya Kak?” Rico merebahkan pantatnya di samping Tacia sambil melepas topi PA-nya (Pecinta Alam, begitu Tacia menyebutnya, karena topi itu mirip dengan topi-topi yang biasa digunakan oleh anak-anak PA untuk berpetualang). Sementara itu Aleidya masuk ke dalam rumah.” Mobil pinjaman Cia, Mobil kakak baru aja ngambek, bannya lagi melahirkan”“Maksudnya…?” Tacia tidak dapat menahan tawa kecilnya karena perkataan Rico” Iya, bannya tadi pagi bocor, nglahirin angin. He… He… He… Nggak lucu ya?”“Kak Rico ada-ada saja” Tacia mengamati Rico sekilas, tampak semburat wajah tampannya diselimuti oleh lelah karena aktivitas di kampus seharian ini.

Tacia mengalihkan pandangannya ke arah jalan mengamati lalu-lalang kendaraan yang silih berganti. Hanya sebentar saja, Aleidya keluar dari dalam rumah membawa satu gelas minuman dingin di atas nampan kecil” Nggak jadi buru-buru nih?” Aleidya berkata sambil memberikan gelas tersebut ke arah Rico” Iya, jadi. Kan nungguin Kamu” Rico mengambil gelas tersebut dari tangan Aleidya lalu meminumnya.” Mau kemana Kak?”“Itu, mobilnya mau dipake yang punya jadi ya harus cepat-cepat dikembalikan” Rico meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja lalu berdiri” Cia, kakak pulang dulu ya”“Oh, ya kak. Wah… Padahal kak Aleidya masih kangen”“Ah, besok kan juga ketemu lagi di kampus” Rico memandang Aleidya, seolah meminta ijin agar diperbolehkan pulang. Aleidya menganggukkan kepalanya pelan” Yuk Ca” Tacia menganggukkan kepalanya” Iya, Kak” Aleidya mengantarkan kekasihnya tersebut ke arah mobil yang diparkir di muka halaman.

Tampak dari jauh mereka berbincang sesaat sebelum mobil yang ditumpangi Rico hilang dari pandangan Tacia. Setelah Rico pergi, Aleidya berjalan menghampiri Tacia lalu duduk disampingnya persis seperti yang dilakukan kekasihnya tadi.” Kok tumben kamu duduk-duduk di sini, biasanya tiap sore gini udah ngilang kemana gitu?”“Lagi males kak, emang lagi nggak ada kerjaan”“Sejak kapan adikku ini punya sifat malas, biasanya aktif terus. Tapi ada baiknya juga sih kamu di rumah kaya gini. Persiapan buat UAN, biar bisa masuk PTN kaya Bintang” ujar Aleidya,” Kak…”“Ya, ada apa?”“Seneng ya punya cowok seperti kak Rico gitu, setia dan benar-benar mencintai Kakak” Aleidya terheran-heran mendengar perkataan adiknya, namun segera dapat menangkap maksudnya” Ya biasa aja kok, suatu saat nanti kamu pasti juga akan mengalaminya”“Kapan, suatu saat itu sepertinya lama sekali datangnya” pandangan Tacia kosong ke arah depan” Jangan bicara seperti itu donk Tacia, nggak baik. Tidak selamanya kamu seperti ini. Suatu saat nanti pasti akan ada seseorang yang benar-benar mencintaimu. Mungkin memang bukan Bintang, tapi pasti ada”“Tapi Tacia ingin kak Bintang yang mencintai Tacia”“Tacia… Kakak sendiri juga tidak mengerti bagaimana sebenarnya perasaan Bintang terhadapmu . Dari awal kamu juga tidak minta kepastiannya sebelum kalian berpisahseperti ini. Sekarang dia sudah jauh, sudah satu tahun kalian berpisah, dia juga jarang menghubungimukan? Bukan maksud kakak menyalahkanmu. Tapi menurut kakak, kamu tidak usah terlalu mengharapkannnya lagi. Kamu konsentrasi saja dulu buat UAN”“Tapi dulu, sebelum kita pisah kak Bintang meminta Tacia untuk menunggunya Kak. Mungkin memang dia masih sibuk sekarang ini” Sampai kapan kamu mau menunggunya. Tacia, jika dia memang benar-benar mencintaimu, sesibuk apapun dia akan tetap menghubungimu dan tidak membuatmu menunggu seperti ini. Sudah sore Cia, kakak masuk dulu ya. Udahlah, jangan dipikir dulu, Oke? Yuk kita masuk kakak belum mandi !”“Kakak duluan aja deh, aku pengen di sini dulu”“Ya udah, kakak masuk duluan ya?” Aleidya tersenyum lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah.

Ingatan Tacia kembali ke masa lalu, ketika pertama kali ia dan Bintang berkenalan di perpustakaan sekolah, ketika mereka mulai akrab dan sering jalan berdua. Bintang sering memperlakukan Tacia seperti pacarnya, tetapi tidak pernah sekalipun mengungkapkan cinta dan sayangnya pada Tacia. Apabila Tacia berusaha menyinggung status hubungan mereka, Bintang selalu menghindar dan berusaha mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Namun, Bintang juga sering mengatakan janji-janjinya kepada Tacia, bahwa suatu saat nanti apabila ia sudah mendapatkan tempat kuliah yang sesuai dengan keinginannya di luar kota, Bintang akan datang lagi kepada Tacia dan menyuruh Tacia untuk menunggunya. Di tengah-tengah hubungan mereka terkadang muncul sosok Niena, seorang perempuan cantik dan sudah dewasa. Usianya dua tahun di atas Bintang, Bintang sendiri sering menceritakan tentang Niena pada Tacia. Ketika Bintang masih duduk di bangku SMA, Niena sudah duduk di bangku kuliah. Mereka berdua adalah mantan kekasih. Walaupun begitu, hubungan pertemanan Bintang dengan Niena masih tetap berjalan sampai sekarang. Apabila Niena sedang libur kuliah, ia pulang ke rumah orang tuannya yang berjarak tidak jauh dari rumah Bintang, mereka berdua adalah tetangga dekat. Terkadang bila ada waktu senggang, Nienalah yang menjemput Bintang pulang sekolah.

* * * * *
B E R S A M B U N G

Label: ,

0 Komentar | @ 10.58

KAPANKAH KAU KATAKAN ITU (Bagian 1)

“Ingat kata-kataku ini ya Ca, jika aku sudah menemukan tempat yang cocok buat kuliah, kakak akan datang lagi padamu”

“Tapi apa harus ke luar kota, Kak?” Tacia menutup kelopak matanya menahan tangis

“Terpaksa Cia... Cuma di kota itu tempat yang paling cocok untuk meneruskan sekolah kakak”

“Sungguh… Kakak akan kembali lagi, Kakak nggak akan lupa sama Tacia?”

“Cia…Kakak di sana kan cuma untuk belajar, Cia jangan kaya anak kecil gitu donk…!” Tacia memandang wajah Bintang lekat,” Apakah Kakak mencintaiku?” Pertanyaan Tacia yang tak terduga oleh Bintang. Bintang tersenyum pada Tacia” Suatu saat nanti kau akan tahu”“Kenapa harus nanti?” sudut Tacia,”Belum saatnya Ca, Kakak nggak bisa menjawabnya sekarang”“Kenapa?” Tacia memandang tajam Bintang, membuat Bintang tersudut” Aku tidak bisa menjawabnya sekarang Ca, mengertilah !!!” Ucap Bintang tegas.” Jangan buat aku bingung dengan pertanyaanmu!” Bintang menambahkan, Tacia tidak mengerti apa maksud Bintang, kenapa begitu sulitnya ia menjawab pertanyaan Tacia. Sebenarnya banyak sekali yang ingin Tacia sampaikan, ia ingin mengungkapkan perasaannya sebelum mereka berpisah. Tapi rasanya mulutnya seperti terkunci, sulit untuk berbicara, suaranya seperti tersekat oleh sesuatu yang ia sendiri tidak tahu. Ia hanya bisa menangis dan menangis tanpa tahu harus berbuat apa. Tacia menghembuskan nafas panjangnya teringat akan kejadian satu tahun silam” Hoey…….!!!” Bentak Kinanthi mengagetkan Tacia” Ha… Ha… Ha…. Kaget ya sayang, kok wajahnya jadi ijo gitu?” Kinanthi tertawa lepas didepan Tacia” Kinanthi, nggak lucu tau! Mohon anda tahu situasi yang tepat!”“Ya maaf, habis aku liat dari tadi ngelamun terus. Sapa coba yang nggak tahu situasi. Liat tuh, anak-anak udah pada ilang, udah pada pulang. Nggak nyadar ya Non dari tadi ditungguin?”“Dari tadi aku juga udah nungguin kamu sayang… Ampe hampir ketiduran, dari tadi becanda terus. Nggak sadar juga ya temennya udah mulai ngakar?” Balas Tacia tak mau kalah,” Ya udah, yuk pulang!” Mereka berjalan meninggalkan ruang kelas menuju ke halaman parkir sekolah. Panas mulai terasa, tampak hanya tinggal beberapa siswa saja yang masih tinggal di sekolah” Eh Ti, berapa bulan lagi ya kita Ujian Nasional?”“Hitung sendiri kenapa?”“Ayolah Ti… Aku serius ni!”“Aduh Cia… aku juga serius, empat bulan lagi, kenapa? Kan udah sering juga disebutin di kelas”“Ya bukannya gitu, kok kak Bintang nggak pulang ya, jangankan pulang ya, sudah dua minggu ini dia tidak menghubungiku. Apa dia sudah lupa ya dengan janjinya dulu”“Ya mana aku tahu, kamu kan yang jadi pacarnya. Eh, lebih tepatnya calon pacar. He… He… He… Belum libur kali ya, tapi emang bener sih, kamu juarang banget dihubungi. Apa emang udah lupa beneran ya? Toh kamu juga belum punya status sama dia” Kinanthi melirik Tacia, berharap mendapat tanggapan dari temannya atas bercandanya tersebut.” Ya aku takut aja, takut dia lupa sama aku. Di sanakan ada Niena, Ti. Kamu tahu sendirikan walaupun mereka sudah putus, tapi mereka tetap berteman baik, ingat nggak waktu kak Bintang masih sekolah dulu, kalo Niena lagi liburankan, tiap pulang sekolah Niena yang jemput”“Aduh Cia… Aku nggak tahu, aku sendiri juga bingung, kalo menurutku sih kalian tuh pasangan yang membingungkan. Sama-sama suka tapi saling gengsi buat ngungkapin cinta, udah yuk masuk. Panas nih!” Mereka berdua masuk ke dalam mobil berplat K 1 17417 Tl yang dikemudikan Kinanthi dan melaju cepat meninggalkan halaman parkir sekolah yang mulai lenggang.

* * * * *

Label: ,